Berkabar.com - Mantan Kapolri Jenderal Pol purn Widodo Budidarmo meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang dideritanya. Jenderal Pol purn Widodo Budidarmo menjabat sebagai Kapolri tahun 1974-1978.
Almarhum dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mantan Kapolri Hoegeng Iman Santosa, sang Kapolri jujur yang melegenda. Ada suatu kisah menarik antara almarhum dengan Jenderal Hoegeng yang merupakan Kapolri alias atasannya kala itu.
Pada 1967, Widodo adalah Panglima Daerah Kepolisian II Sumatera Utara. Saat itu, Widodo sedang mengikuti upacara peringatan hari Proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus di Medan.
Widodo ikut upacara bersama gubernur dan anggota Muspida Sumut lainnya. Namun tiba-tiba seorang polisi tergesa-gesa mendatanginya.
"Pak Hoegeng ingin bicara SSB (short side band) dengan bapak, sangat penting," ujar polisi itu.
Widodo pun kaget. Jika Kapolri menelepon, pasti ada sesuatu yang penting akan disampaikan. Setelah minta izin kepada gubernur dan anggota Muspida lainnya, Widodo segera meluncur ke kantor Polda Sumatera Utara. Upacara 17 Agustus yang belum selesai langsung ditinggalkannya.
"Ada perintah apa Pak Hoegeng?" tanya Widodo di depan pesawat SSB.
Di ujung sana terdengar suara khas Hoegeng secara tenor. "Begini mas Widodo, di Medan ada bandar judi memakai nama saya untuk beking. Tolong dicari siapa orang itu dan dilaporkan kembali pada saya, tidak lebih dari jam 12.00 siang ini," perintah Hoegeng.
"Siap pak, akan saya kerjakan," kata Widodo dikutip dari Semua karena kuasa dan kasih-Nya: biografi Widodo Budidarmo karangan Baskara Trisila dan Hari Nugroho.
Menurut Widodo, Hoegeng paling keras dan tidak kenal kompromi dengan perjudian. Siapa pun tahu jenderal yang mempunyai hobi menyanyi lagu berirama Hawaian itu bersih dan tak pandang bulu menangkap siapa pun yang melakukan perjudian. Jika sekarang namanya dipakai sebagai beking judi di Medan, Widodo paham bagaimana geramnya Hoegeng.
Widodo segera memanggil asisten intel Kolonel Polisi Bismo Soejitno untuk mengusut hal ini. "Cari siapa yang memakai nama pak Hoegeng," perintah Widodo.
Asisten intel seperti biasa bertindak cepat. Kurang dari satu setengah jam kemudian Bismo datang melapor.
"Ada pak, orang namanya Yasper Hoegeng. Nama aslinya Yap Hao Ging, tapi namanya diubah menjadi Yasper Hoegeng lewat keputusan pengadilan," kata Bismo. Yasper Hoegeng rupanya bukan bandar judi melainkan penjual lotere.
Widodo segera melaporkan hasil temuannya itu kepada Hoegeng. Juga tentang nama Yasper Hoegeng yang sudah diputuskan melalui prosedur hukum. Tapi jawaban Hoegeng singkat saja.
"Mas Widodo, saya tidak peduli apakah perubahan namanya diputuskan pengadilan atau tidak, suruh dia ubah namanya," tegas Hoegeng.
Ini sebuah tugas yang tidak mudah. Widodo kemudian memerintahkan Bismo untuk mendatangi Yasper dan memintanya tidak memakai nama "Hoegeng" lagi. Kemudian tidak sampai satu jam Bismo kembali.
"Berhasil Pak, dia mau mengubah namanya. Sekarang tidak ada lagi kata Hoegeng di namanya," kata Bismo.
Widodo langsung melapor lagi kepada Hoegeng yang kemudian lega mendengar hasil kerja Widodo. Selesailah sudah urusan "Hoegeng" sebagai beking judi itu.
Sumber: merdeka
Penulis: Redaksi