Berkabar.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan gejolak ekonomi yang terjadi di Indonesia sebenarnya bukan berasal dari pengaruh eksternal. Melainkan akibat dari krisis moneter tahun 1997-1998, yang menimbulkan trauma tersendiri bagi Indonesia.
Mau Diskon Rp 250,000? Beli tiket pesawat-nya di Pergi.com
Trauma tersebut dirasakan oleh Indonesia pada krisis ekonomi di tahun 2008, yang dikenal sebagai krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Di mana kredit perumahan di AS diberikan kepada debitur-debitur yang memiliki portofolio kredit yang buruk.
"Persoalannya sebenarnya bukan dari krisis di Amerika. Meski sudah mengguncang dunia, tapi pada saat itu Indonesia memiliki trauma masa lalu. Dan kita menghadapi persoalan itu dengan kompleks," kata Sri di kantornya, Rabu (30/11).
Selain itu, krisis 1998 juga mengakibatkan banyak pelaku usaha cenderung 'menyelamatkan diri sendiri', ketika Indonesia mengalami guncangan akibat kebijakan dari negara lain. Seperti dengan menarik modal, menutup usaha, atau mengambil uang yang mereka simpan di Indonesia.
"Pelaku ekonomi itu rasional, tapi ternyata tidak rasional. Dan Menteri Keuangan harus hadapi itu waktu para pelaku ekonomi tidak rasional. Mereka (pelaku usaha) selalu sangat khawatir, dan kita harus menenangkan dan mengembalikan lagi kepercayaan diri mereka," imbuhnya.
Langkah yang diambil adalah dengan mengembalikan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi bagian dari solusi. Sehingga, para pelaku usaha tetap percaya bahwa ekonomi Indonesia akan tetap stabil meski terjadi guncangan akibat kondisi ekonomi global.
"Kalau APBN yang jadi backbone Menteri Keuangan untuk bicara dengan pelaku ekonomi bisa kredibel, maka kita bisa menenangkan. Tapi kalau backbone Menteri Keuangan, yaitu APBN tidak kredibel, maka setiap yang diomongin sama Menteri Keuangan juga tidak kredibel," pungkas Sri.
Sumber: merdeka
Penulis: Redaksi