Rohil

UAS Bikin Jamaah Tertawa di Haul Syekh Oesman: Aku Ko Mudo, Panggil Bro Ajo

Redaksi Redaksi
UAS Bikin Jamaah Tertawa di Haul Syekh Oesman: Aku Ko Mudo, Panggil Bro Ajo
ist/diskominfotiksrohil

BERKABAR.COM - Malam itu, suasana pengajian haul ke-80 Syekh Oesman Syahabuddin Alkhalidy Naqsabandi di Bagan Siapi-api, Rokan Hilir, dipenuhi jemaah yang duduk khusyuk sekaligus siap tertawa. Ustadz Abdul Somad (UAS) membuka ceramahnya dengan salawat, lalu langsung menyapa jemaah dengan gaya khasnya yang cair.


"Malam iko acara awak namonyo haul," ujarnya, sebelum menjelaskan asal kata itu dari bahasa Arab hala yahulu haulan, yang berarti satu putaran waktu selama setahun, dasar mengapa zakat emas dan zakat perniagaan baru wajib dibayar setelah genap satu haul.


Sebelum masuk ke isi ceramah utama, UAS mengajak jemaah "kuis dadakan" soal istilah-istilah Arab yang melekat pada gelar ulama. Ia menjelaskan makna kata syekh yang berarti orang tua sekaligus orang berilmu sambil berseloroh bahwa dirinya keberatan dipanggil "Syekh Abdul Somad" karena, katanya sambil tertawa, "aku ko mudo." Ia pun menawarkan alternatif panggilan yang lebih santai: "bro" saja.


Tak berhenti di situ, ia membedah arti nama-nama lain: Utsman yang bermakna kokoh dan kuat, hingga bergurau bahwa kalau ada warga kampungnya bernama Utsman tapi badannya "letoi," sebaiknya namanya diganti saja. Ia juga menjelaskan istilah syihab (bintang berekor, disebut dalam Al-Qur'an sebagai penangkis jin yang mencuri dengar berita langit) dan kata din yang berarti agama, dasar dari nama-nama seperti Zainuddin (perhiasan agama) dan Syihabuddin (benteng pertahanan agama). "Ingat elok-elok," candanya, "sebab ini akan keluar dalam ujian akhir semester."


Bagian inti pertama ceramah adalah pemaparan panjang silsilah guru-mengajar tarekat Naqsabandiyah, mulai dari Syekh Diyauddin Khalid Al-Qurdi Al-Baghdadi, diturunkan kepada Syekh Abdullah Afandi, lalu Syekh Sulaiman Al-Quraimi, Syekh Sulaiman Zuhdi (yang mengajar di Jabal Abi Qubais, dekat Bukit Safa), hingga akhirnya sampai ke Syekh Abdul Wahab Rokan, Syekh Utsman Sahabuddin, Syekh Razali, Syekh Madyan, dan Syekh Idrisâ€"guru mursyid yang masih mengajarkan suluk hingga kini di Bagan Siapi-api.


UAS meminta jemaah mengulang nama-nama itu, layaknya gaya mengajarnya sebagai dosen selama 11 tahun, dijelaskan tiga kali. Jika belum paham juga, ia mengancam bercanda, "kalau tak kau keluar, aku keluar." Pesan intinya serius: ilmu agama harus bersanad, tersambung jelas mata rantai gurunya sampai kepada Nabi Muhammad SAW, sama seperti jalur periwayatan hadis dari Imam Bukhari hingga Abu Hurairah.


Segmen ini menjadi salah satu yang paling mengundang tawa. UAS menyindir generasi yang mengaku "berguru pada YouTube" atau bahkan TikTok. Ia menegaskan belajar dari YouTube boleh, asalkan memenuhi tiga syarat: gurunya benar-benar ada di dunia nyata (bukan sekadar sosok animasi seperti Upin-Ipin yang "ada di YouTube tapi tak ada di dunia ini"), berakidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan konsisten menjalankan syariatâ€"termasuk salat tepat waktu, bukan sekadar pandai azan dengan mikrofon canggih tetapi lupa sembahyang.


Ia juga menyentil dai-dai yang gemar tampil necis dengan gelar besar namun longgar soal ibadah, dengan candaan khas: "Kalau mau bohong, bohongi orang sana. Jangan bohongi kita."


Nada ceramah berubah lebih personal ketika UAS bercerita tentang perjalanan pendidikannya sendiri ke Al-Azhar, Kairo, Mesirâ€"salah satu dari seratus penerima beasiswa dari Indonesia pada 1998. Ia mengenang keberatan ibunya melepas anak semata wayang pergi jauh, sampai pamannya menghibur dengan pepatah: "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan kredit."


Ia lantas membandingkan pengorbanan santri zaman dulu yang berlayar tiga bulan ke Mekah dan rela berpisah dari keluarga bertahun-tahun dengan generasi sekarang yang serba dimudahkan teknologi namun sering kurang tabah. Kisah ini ia tutup dengan kritik tajam namun jenaka kepada pejabat yang enggan memberi beasiswa pendidikan agama, sembari mengenang pengalaman pahitnya sendiri diminta menunjukkan proposal bantuan yang ditolak instansi daerah.


UAS lalu merangkai kisah tokoh-tokoh sejarah Islam yang menjadikan tarekat sebagai landasan keberanian mereka melawan penjajahan, Umar Mukhtar dari Libya (pengamal Tarekat Sanusiyah) yang tetap teguh menantang maut di hadapan Mussolini, Salahuddin Al-Ayyubi yang membebaskan Yerusalem; Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel berkat bimbingan gurunya, Syekh Aq Syamsuddin; hingga Syekh Yusuf Al-Makassari yang dibuang Belanda ke Sri Lanka lalu Afrika Selatan, dan justru dihormati oleh Nelson Mandela.


Pesan yang ia tekankan: mereka semua tidak takut mati karena telah "ditalqin" seperti dalam ritual suluk, dibisikkan kalimat La ilaha illallah di telinga, layaknya persiapan menghadapi kematian sejak hidup di dunia.


Bagian berikutnya membahas praktik inti tarekat Naqsabandiyah: zikir khofi (tersembunyi, tanpa suara dan tanpa gerak lidah), berbeda dengan zikir jahar yang dilafalkan keras. UAS bahkan mengajak jemaah mempraktikkan teknik menahan napas sambil melafalkan "La ilaha illallah" dalam hitungan ganjil, sebuah latihan zikir yang menurutnya berkaitan dengan ketenangan hati, dengan bumbu humor ketika beberapa jemaah kesulitan mengikuti instruksi dan malah "bernapas" di tengah zikir karena belum pernah bersuluk.


Ia mengaitkan manfaat menahan napas dengan penjelasan medis modern bahkan meminta jemaah "bertanya pada AI" untuk mengonfirmasi klaim ituâ€"mengenai manfaatnya meredakan stres, menambah kapasitas paru-paru, dan meningkatkan toleransi CO2. Ia juga bercerita tentang tesis mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang meneliti pengaruh zikir terhadap ketenangan hati, sejalan dengan ayat Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub.


Penjelasan tentang suluk turut disampaikan: masa latihan zikir intensif selama 10 hingga 40 hari, dengan jemaah mengenakan pakaian putih dan berkelambu sebagai simbol "geladi kematian", membatasi makan daging demi kekhusyukan, dan memperbanyak salat sunat taubat, bukan meninggalkan salat wajib seperti tuduhan sebagian orang.


Menjelang akhir yang berdurasi lebih dari satu jam (ia sendiri bercanda bahwa ceramahnya "tak pernah lebih dari 60 menit, kecuali di haul Syekh Utsman Sahabuddin ini, sampai 63 menit"), UAS menutup dengan pesan: harta dan jabatan hanyalah titipan yang akan berpindah tangan, sementara yang kekal hanyalah zikir dan amal. Ia mengajak generasi muda lebih mengenal ulama daripada sekadar tokoh hiburan, serta mendorong jemaah membayar zakat lewat Badan Amil Zakat Nasional dan mendukung program sosial tahunan haulâ€"santunan anak yatim hingga khitanan massal.


Ceramah ditutup dengan permohonan maaf dan pantun penutup, dilanjutkan doa haul yang dipimpin Habib Umar, berisi tawasul kepada para syekh dan permohonan ampunan bagi para leluhur dan guru. Acara diakhiri dengan pembagian nasi berkat serta pameran buku-buku karya Ustaz Abdul Somad bagi jemaah yang hadir.


Acara Haul ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan tokoh penting, di antaranya Asisten I Provinsi Riau, Zulkifli Syukur, M.A., M.Si, Bupati Rokan Hilir, H. Bistamam, Wakil Bupati Rokan Hilir, Jhony Charles, BBA., MBA, Kasi Log Kasrem 031/Wirabima, Kolonel Inf. Achmad Hisom Baihaki, Dandim 0321/Rokan Hilir, Letkol Inf. M. Ricky P.P.P.A.G.A., S.Hub.Int., M.H.I, Wakil Ketua I DPRD Rokan Hilir, Maston, Kajari Rokan Hilir yang diwakili Kasi Intel, Alfriwan Putra, S.H., ulama dan tokoh masyarakat, Tuan Guru Ch. Idris, beserta para tokoh agama lainnya. (rlsdiskominfotiksrohil)

Penulis: Redaksi

Editor: Ekas