BERKABAR.COM - Best Planter Indonesia (BPI) menyelenggarakan pelatihan Gelombang 5 pada tanggal 21 �" 24 Juli 2026 di Provinsi Riau untuk Modul Pembuatan dan AplikasiPupuk Organik. Peserta pelatihan yang berjumlah 128 orang berasal dari KabupatenRokan Hilir. Pelatihan Pembuatan dan AplikasiPupuk Organikmerupakan program pengembangan sumberdaya manusia perkebunan tahun 2026 yang didanai sepenuhnya oleh BPDP dan mendapat dukungan teknis dari Ditjenbun.
Pembukaan pelatihan dilakukan di Ballroom Lancang Kuning Hotel Furaya, Pekanbaru. Dalam sambutannya, Direktur Operasional Best Planter Indonesia (BPI) Friyandito SP MM menyampaikan bahwa Pelatihan Pembuatan dan AplikasiPupuk Organikini telah dilaksanakan BPI pada gelombang 3 dan gelombang 4 pelatihanpekebun sawitdi Pekanbaru, Riau. BPI mengusung slogan 100% Best Practices, di mana selama pelatihan akan ada sesi materi dan ada sesi praktek.
Di hari pertama dan kedua ada praktik pembuatanpupuk organik. Di hari ketiga, kunjungan lapangan, dan hari keempat pengamatan progres atau hasil pembuatanpupuk organik, apakah berhasil atau gagal. Dengan begini, peserta dapat lebih paham dan lebih yakin untuk membuatpupuk organiksendiri.
Dalam sambutannya disampaikan bahwapupuk organiktetap harus dikombinasi dengan pupuk kimia, dengan perbandingan 50% organik dan 50% kimia. Pilihannya,pupuk organikbisa sebagai substitusi dengan hasil produksi tetap, atau sebagai ekstra dengan hasil produksi meningkat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KabupatenRokan Hilirdiwakili Sekretaris Dinas Asrul SSos menyampaikan bahwa peserta pelatihan dipantau dinas dan programnya dilanjutkan untuk dikembangkan di desa masing-masing.
Dalam pelatihan jangan hanya mendengar, tapi juga dipraktekkan. Harga pupuk kimia semakin mahal. Dengan pelatihanpupuk organik, pembelian pupuk kimia bisa ditekan sehingga mengurangi biaya produksi.
”SawitRokan Hilirtidak semuanya di lahan bagus, ada juga di lahan marginal. Bagaimana caranyapupuk organikbisa memperbaiki lahan marginal agar hasil produksi sawit bisa meningkat. PesertaRokan Hilirharus semangat. Pelatihan harus ada efeknya, dan ada implementasinya. DinasRokan Hilirmendukung sepenuhnya pelatihan ini,” sebutnya.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi Shut MT menyampaikan apresiasi bagi BPI yang menampilkan tari Zaplin sebagai kesenian khas dariRokan Hilir, wujud pelestarian budaya. Lebih lanjut, produksi kecambah sawit di Provinsi Riau mencapai 41 juta butir dengan luas kebun mencapai 3,9 juta ha, provinsi dengan kebun sawit terluas di Indonesia. Produksi kebun sawit di Riau belum maksimal, karena belum dikelola dengan optimal, masih bisa ditingkatkan produksinya, salah satu dengan pupuk.
Pupuk harganya mahal, sebagian diimpor dan dibayar dengan dolar. Ketergantungan impor pupuk dijawab solusinya dengan pelatihanpupuk organikini.
”Kami berharap pelatihan diikuti dan disikapi dengan serius. Pulang membawa bekal pengetahuan untuk diaplikasikan. Syukur bisa jadi juraganpupuk organik. Ilmu yang didapat dari pelatihan jangan disimpan sendiri, dibagi dengan kelompok dan koperasinya. Makin banyak berbagi, makin mahir, makin paham. Jadilah agen perubahan untuk perkebunan Riau, terutara di sektor ekonomi,” ujarnya.***
Penulis: Riau Pos
Editor: Ekas