Internasional

Kecam Kebijakan Presiden Trump Dalam Aksi Demonstrasi “No Kings”, Jutaan Warga AS Turun ke Jalan

Redaksi Redaksi
Kecam Kebijakan Presiden Trump Dalam Aksi Demonstrasi “No Kings”, Jutaan Warga AS Turun ke Jalan
ist/rpg/jpn/net

BERKABAR.COM - Menentang kebijakan Presiden Donald Trump,demonstrasibertajuk “No Kings” kembali berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026).

Dalam gelombang ketiga protes nasional ini, jutaan peserta turun ke jalan untuk mengecam kebijakan deportasi imigran, keterlibatan dalam konflik Iran, serta sejumlah kebijakan lain yang dinilai kontroversial.

Seperti dilansir dari Reuters, Minggu (29/3/2026), lebih dari 3.200 aksi direncanakan di seluruh 50 negara bagian. Sekitar dua pertiga kegiatan justru berlangsung di kota-kota kecil, meningkat hampir 40 persen dibanding mobilisasi pertama pada Juni tahun lalu.

Aksi besar tercatat di sejumlah kota utama seperti New York City, Dallas, Philadelphia, dan Washington.

Aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk keterlibatan dalam perang Iran, pengetatan penegakan imigrasi federal, serta melonjaknya biaya hidup.

"Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Tetapi ini Amerika, dan kekuasaan adalah milik rakyat - bukan milik calon raja atau kroni-kroni miliarder mereka," tegas mereka, seperti dikutip dari BBC.

Ini adalah kali ketiga dalam kurang dari setahun warga Amerika turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut 'No Kings', saluran oposisi yang paling vokal dan visual terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Di New York, kota terpadat di Amerika, puluhan ribu demonstran berkumpul, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, seorang kritikus Trump yang sering menyebut presiden Trump ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita.

Aksi protes berlangsung dari Atlanta hingga San Diego. Mereka merasa konstitusi terancam.

"Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat," kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta, tempat ribuan orang turun ke jalan.

"Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik," ucapnya.

Suasana anti-Trump telah meluas hingga ke luar perbatasan AS, dengan demonstrasi pada hari Sabtu di kota-kota Eropa termasuk Amsterdam, Madrid, dan Roma, di mana 20 ribu orang berbaris di bawah pengawasan ketat polisi.

Seperti diketahui, hari protes nasional "No Kings" pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump yang ke-79 dan bertepatan dengan parade militer yang ia selenggarakan di Washington. Beberapa juta orang turun ke jalan, dari New York hingga San Francisco.

Protes kedua, pada bulan Oktober, menarik sekitar tujuh juta demonstran. Menurut penyelenggara, acara hari Sabtu lalu diikuti oleh satu juta peserta lagi dan 600 demonstrasi tambahan.

Aksi “No Kings” kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.

Para penyelenggara mengklaim terjadi lonjakan partisipasi, termasuk di negara bagian yang selama ini dikenal pro-Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.



Sumber: riaupos.jawapos.com

Penulis: Redaksi

Editor: Iwan